Selasa, 12 Maret 2013

Rossoneri Berharap Keajaiban 19 Tahun Lalu

thumbnail

Kalah 0-2 oleh gol Kevin Prince-Boateng dan Sulley Muntari di laga pertama, malam ini Barcelona akan menjamu AC Milan di leg II babak 16 besar Liga Champions.

Dalam sejarah kompetisi Eropa, kedua tim ini telah bertemu 14 kali di Liga Champions dan 1 kali di Piala Super. Di panggung Eropa ini, dalam satu dekade terakhir, baik Milan maupun Barcelona dapat dikatakan sebagai raja. Dalam rentang waktu 2003-2007 AC Milan pernah 3 kali melaju ke final dan meraih 2 gelar, sementara pada 2006-2011 Barcelona meraih 3 gelar juara.

Salah satu pertandingan mereka monumental, ketika Milan menghempaskan Barcelona 4-0 di final musim 1993/1994. Barcelona yang kala itu diperkuat pemain-pemain pemain kelas dunia semacam Ronald Koeman, Hristo Stoichkov, dan Romario harus menelan kekalahan karena dua gol dari Daniele Massaro, serta satu gol dari Dejan Savicevic dan Marcel Desailly. Pertandingan itu pun jadi laga yang menasbihkan Fabio Capello sebagai pelatih muda berbakat di dataran Eropa.

Uniknya, kondisi Barca dan Milan di final 19 tahun lalu itu mirip dengan kondisi kedua tim saat ini. Kala itu Milan baru ditinggal para pilarnya dari negeri Belanda, yaitu trio Gullit-Van Basten-Riijkaard, dan kehilangan dua centerback andalannya karena cedera: Baresi dan Costacurta. Sementara Barcelona yang diarsiteki seorang jenius Johan Cruyff sedang berada di puncak permainannya.

Kondisi sama pun seolah berulang lagi di babak 16 besar kali ini. Musim ini Milan baru saja ditinggal para legendanya: Seedorf, Nesta, Inzaghi, dkk, serta harus kehilangan striker andalannya, Pazzini (cedera) dan Balotelli, yang terlanjur terdaftar bersama Manchester City di Liga Champions. Sementara Milan terseok-seok di awal musim, Barcelona melaju mulus di La Liga.

Sebagaimana keterkejutan banyak orang atas kekalahan sang dream-team pada 1994, kemenangan Milan atas Barcelona pada 20 Februari lalu juga di luar dugaan banyak pecinta sepak bola. Bedanya kali ini pertandingan tidak berjalan selama 90 menit. Di depan puluhan ribu pendukungnya Barcelona masih memiliki kesempatan untuk meraih satu tiket ke babak selanjutnya.

Prediksi Formasi: 4-3-3 versus 4-3-3

Dengan cedera yang dialami De Jong, Bonera, Antonini, Pazzini, serta Philippe Mexes yang juga diragukan untuk tampil, Milan sebenarnya tidak memiliki banyak pilihan untuk mengubah-ubah formasi. Mereka diprediksi akan menurunkan susunan pemain yang sama saat mengalahkan Barcelona di Milan, dengan El-Shaarawy menjadi ujung tombak menggantikan Pazzini dan Mbaye-Niang mengisi pos El-Shaarawy.

Namun, jika ingin bermain lebih defensif, Milan bisa menurunkan Antonio Nocerino dan memainkan formasi berlian di lini tengah untuk mematikan pergerakan-pergerakan pemain tengah Barcelona. Selain itu, Nocerino juga bisa diplot untuk membatasi gerak Jordi Alba seperti halnya Jose Calejon saat Real Madrid mengalahkan Barcelona 2 pekan lalu.

Kunci kemenangan Milan 3 pekan lalu sesungguhnya bukan terletak pada susunan formasinya, namun pada kedisiplinan baik lini tengah maupun lini belakang dalam bertahan, serta peran masing-masing pemain tengahnya. Ambrosini akan menahan gempuran pemain Barca, Montolivo mengalirkan bola ke samping, sementara Muntari dengan energinya akan memberikan kecepatan saat melakukan serangan balik. Hal ini mirip dengan yang dilakukan oleh Cesare Prandelli di Italia dengan De Rossi, Pirlo, dan Marchisio.

Sementara itu, di kubu Barcelona, Jordi Roura dapat menurunkan pemain-pemain terbaiknya. Dalam La Liga pekan lalu, Messi, Iniesta, Busquets, Jordi Alba, Pique, dan Pedro telah diistirahatkan demi menghadapi laga ini.

Dengan rapatnya lini tengah, kunci untuk membongkar pertahanan AC Milan sendiri terletak di sisi lateral lapangan. Kombinasi Messi-Alves-Pedro di sisi kiri bisa merepotkan Kevin Constant, sementara Jordi Alba akan coba meregangkan ruang permainan di sisi kanan sehingga Fabregas atau Iniesta bisa menusuk masuk ke dalam kotak penalti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar