
Johannesburg - Laga final Piala Afrika
tahun ini tak sekadar pembuktian dua kuda hitam, Nigeria serta Burkina
Faso untuk jadi yang terbaik. Lebih dari itu kemenangan di partai puncak
akan jadi pertaruhan harga diri para pelatih lokal Afrika.
Nigeria
serta Burkina Faso memang tak begitu diunggulkan bisa melaju ke final.
Meski berstatus sebagai salah satu tim besar 'Benua Hitam', tapi Nigeria
sudah lama tenggelam prestasinya.
Sementara Burkina Faso baru
pertama kali lolos ke fase sistem gugur dan langsung mencapai final. Dan
ini menjadi prestasi tertinggi buat negara berpenduduk sekitar 16 juta
jiwa itu di kancah internasional.
Siapapun juaranya jelas titel
Piala Afrika ini akan jadi penuntas dahaga prestasi terutama bagi
Nigeria yang ingin mengembalikan statusnya sebagai 'Elang Super'.
Namun
lebih dari itu, laga final ini akan jadi ajang pembuktian bagi Stephen
Keshi, pelatih Nigeria yang akan melawan orang Belgia bernama Paul Put,
yang membawa Burkina Faso tampil gemilang di turnamen dua tahunan ini.
Keshi
adalah perwakilan dari para pelatih asli asal Afrika yang berusaha
mempertaruhkan gengsi serta harga diri dengan para pelatih asing yang
bertahun-tahun sudah "menjajah" negara-negara Afrika. Apalagi tahun lalu
Zambia jadi juara usai ditangani Herve Ranard yang asal Prancis.
Jelas
adanya Keshi di partai final bisa jadi kebangaan tersendiri bagi
koleganya yang sudah membuktikan bahwa kualitas mereka tak kalah dengan
pelatih impor. Jika Keshi berhasil membawa John Obi Mikel dkk jadi
juara, maka ia akan jadi orang kedua yang menjuarai Piala Afrika sebagai
pelatih dan pemain -- Keshi menjadi kapten saat Nigeria jadi juara
tahun 1994 --.
Tak hanya itu ia juga bisa mengembalikan pamor
pelatih lokal Afrika setelah pada tahun 2006 hingga 2010, Mesir selalu
jadi juara di bawah asuhan Hassan Shehata.
"Orang-orang kulit
putih hanya datang ke Afrika untuk uang. Mereka tidak melakukan apa yang
tidak bisa kami lakukan. Saya tidak rasis tapi seperti itulah adanya,"
ujar Keshi seperti dilansir Reuters.
"Saya tidak pernah
anti pelatih berkulit putih di Afrika, karena saya selalu bekerja dengan
para pelatih berkulit putih," sambungnya.
"Jika Anda ingin
membawa pelatih klasik dan berpengalaman dari Eropa, saya siap untuk
belajar dari pelatih tersebut, karena dia lebih baik dari kami, dia
punya pengetahuan lebih baik dari kami.
"Bagaimanapun, kami punya
pemain Afrika berkualitas atau eks pemain Afrika yang bisa melakukan
hal yang sama, tapi mereka tidak dapat kesempatan cuma karena mereka
adalah orang kulit hitam. Saya tidak suka itu," demikian Keshi.
Minggu, 10 Februari 2013
Final Piala Afrika: Pertaruhan Gengsi Pelatih Lokal vs Pelatih Impor
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar